Head ads

Head ads

🔥 Last Friday Ride: Keren Sih, Tapi Bikin Emosi di Jalan? Curhat Warga!


Photo Hanya Illustrasi


Halo, Guys! Siapa di sini yang tiap akhir bulan lihat rombongan sepeda super heboh memenuhi jalanan kota? Yap, kita lagi bahas fenomena Last Friday Ride (LFR) yang lagi viral banget, apalagi di Jogja.

Dulu, kita pernah bersama sama membersihkan kewek dari iklan, mencopoti rontek dan spanduk yang asal tempel, resmi atau tidak lalu di buang ke balai kota, Hari ini hampir gak ada sikap jelas dari aktifitas jlfr selain sekedar menuhi jalan secara sporadis. (sumber Jogjainfo.id)

Sisi Keren (Kenapa Mereka Ramai?)
Sisi Gelap (Kenapa Warga Mulai Ngeluh?)
Intinya: Niat Baik, Pelaksanaan Perlu Diperbaiki!
Untuk info kegiatan kunjungi instagram : jogjalastfridayride.id

Buat yang belum tahu, LFR itu intinya ngumpul dan gowes rame-rame di hari Jumat terakhir setiap bulan. Dari acara ini, vibes-nya emang keren banget: Sepeda-sepeda unik, outfit kece, dan semangat anak muda buat olahraga. Tujuannya mulia: Kampanye hidup sehat dan mengurangi polusi. Bahkan sebenarnya gerakan ini lahir dari semangat merebut ruang publik dari dominasi kendaraan bermotor dan privatisasi suang public.

Bayangin, Bro, lo lagi suntuk kerja seminggu penuh. Terus, pas Jumat sore, lo ikut ribuan orang turun ke jalan, ketawa-ketawa, selfie, dan nunjukkin kalau bersepeda itu bukan cuma buat ke warung, tapi juga lifestyle.

  • Komunitas Strong: JLFR jadi ajang ketemu teman, nambah koneksi, dan ngerasain energi positif bareng-bareng.
  • Vibes Anti-Polusi: Mereka nunjukkin kalau motor/mobil bisa diganti sepeda. Salut!

Nah, di balik kehebohan dan vibes positif itu, ada cerita lain dari sisi pengguna jalan biasa, terutama di kota yang sudah padat kayak Jogja. Jujur, kritik yang masuk udah lumayan banyak dan pedas. Masalahnya cuma satu: MACET PARAH!

Jangan samapai ada masyarakat yang  harus buru-buru ke stasiun buat ngejar kereta malam, tapi terjebak macet total gara-gara rombongan sepeda yang memanjang banget dan 'menguasai' jalan. Alhasil? Ketinggalan kereta!

Warga Bilang Apa?

"Niatnya bagus, tapi kok malah nyusahin orang yang mau kerja/pulang? Tertibnya mana?"

Beberapa keluhan lain juga menyoroti ada peserta yang gowesnya di tengah jalan banget, nggak peduli sama kendaraan lain, bahkan pas lampu merah. Ini kan jadi bahaya buat semua orang!

Menurut gue, JLFR ini adalah bukti nyata kalau antusiasme masyarakat Indonesia itu TINGGI BANGET terhadap kegiatan positif. Tapi, namanya kegiatan massal, nggak bisa cuma modal semangat doang.

Coba kita pikirin : Lo nggak mau kan kalau acara keren kayak gini malah jadi dicap negatif dan di-banned gara-gara bikin emosi di jalan?

Jadi, Solusinya Gimana, Bro?

  1. Koordinasi Sama Pak Polisi & Dishub: Komunitas mesti ngobrol serius sama pihak berwenang. Minta bantu voorijder (pengawal), atau bikin rekayasa rute biar nggak nabrak jam-jam padat.

  2. Rute Alternatif: Pilih rute yang lebih lebar atau yang memang kurang padat. Hindari jalan-jalan utama pas peak hour.

  3. Self-Awareness Peserta: Ini yang paling penting. Walaupun rame-rame, aturan lalu lintas itu WAJIB! Jangan asal main serobot. Hormati pengguna jalan lain.

Yuk, kita dukung LFR biar tetep keren, sehat, dan bisa jadi contoh yang baik. Tapi, keren juga harus dibarengi sama tertib dan tanggung jawab, biar nggak ada lagi yang nangis di pojokan gara-gara ketinggalan kereta! 

Gerkan terus kampanye bersepeda mualai komunitas sepeda di kota lo, biar masyarakat akrab dengan bersepeda.

Gimana, setuju nggak, Guys? Kalian pernah kena macet LFR nggak? Coba share cerita kalian di kolom komentar! 👇

Tidak ada komentar